Rabu, 08 Juni 2011

pengertian buat arti kata "BISING"

1 Apakah Kebisingan Itu
Kebisingan didefinisikan sebagai "suara yang tak dikehendaki, misalnya yang merintangi terdengarnya suara-suara, musik dsb, atau yang menyebabkan rasa sakit atau yang menghalangi gaya hidup. (JIS Z 8106 [IEC60050-801] kosa kata elektro-teknik Internasional Bab 801: Akustikal dan elektroakustik)". Diantara pencemaran lingkungan yang lain, pencemaran/polusi kebisingan dianggap istimewa dalam hal:
[1] Penilaian pribadi dan penilaian subyektif sangat menentukan untuk mengenali suara sebagai pencemaran kebisingan atau tidak, dan
[2] Kerusakannya setempat dan sporadis dibandingkan dengan pencemaran air dan pencemaran udara (Bising pesawat udara merupakan pengecualian).
Mengenai karakteristik [1] di atas, ada masalah mengenai bagaimana menempatkan kebisingan antara tingkat penilaian subjektif seorang individu yang menangkapnya sebagai "kebisingan" dan tingkat fisik yang dapat diukur secara obyektif. Dengan karakteristik [2], tidak ada perbedaan jelas antara siapa agresornya dan siapa korbannya, sebagaimana yang sering terjadi ada korban-korban dari kebisingan akibat piano dan karaoke. Meskipun jumlah keluhan yang terdaftar di kota-kota besar selama beberapa tahun terakhir ini telah berkurang, kebisingan masih merupakan bagian besar dari keluhan-keluhan masyarakat (Gb 1-1).
Gb. 1-1 Keluhan-keluhan tentang pencemaran di Jepang menurut jenisnya

Catatan: Keluhan-keluhan tentang endapan tanah dihilangkan dari Tabel karena sulit untuk menggambarkannya.
Sumber: Komisi Koordinasi Sengketa Lingkungan
2 Tiga Unsur dari Suara
Apabila keyboard dari piano ditekan, seseorang menangkap "nyaringnya", "tingginya" dan "nada" suara yang dipancarkan. Ini adalah tolak ukur yang menyatakan mutu sensorial dari suara dan dikenal sebagai "tiga unsur dari suara".
Sebagai ukuran fisik dari "kenyaringan", ada amplitude dan tingkat tekanan suara. Untuk "tingginya" suara adalah frekwensi. Tentang nada, ada sejumlah besar ukuran fisik, kecenderungan jaman sekarang adalah menggabungkan segala yang merupakan sifat dari suara, termasuk tingginya, nyaringnya dan distribusi spektral sebagai "nada".
3 Frekwensi dan Panjang gelombang
Pikirkan sejenak tentang partikel-partikel dari mana udara dibuat. Di mana partikel-partikel ini padat, tekanan udara bertambah, di mana partikel-partikel jarang, tekanan berkurang. Gejala yang disebarkan oleh perubahan tekanan ini disebut sebagai gelombang suara. Suatu gelombang suara memancar dengan kecepatan suara dengan gerakan seperti gelombang. Jarak antara dua titik geografis (yaitu dua titik di antara mana tekanan suara maksimum dari suatu suara murni dihasilkan) yang dipisahkan hanya oleh satu periode dan yang menunjukkan tekanan suara yang sama dinamakan "gelombang suara", yang dinyatakan sebagai (m). Kemudian, apabila tekanan suara pada titik sembarangan berubah secara periodik, jumlah berapa kali di mana naik-turunnya periodik ini berulang dalam satu detik dinamakan "frekwensi", yang dinyatakan sebagai f (Hz, lihat Gb. 1-2). Suara-suara ber-frekwensi tinggi adalah suara tinggi, sedangkan yang ber-frekwensi rendah adalah suara rendah. Hubungan antara kecepatan suara c (m/s), gelombang dan frekwensi f dinyatakan sebagai berikut:
c = f x
Panjang gelombang dari suara yang dapat didengar adalah beberapa sentimeter dan sekitar 20 m. Kebanyakan dari obyek di lingkungan kita ada dalam lingkup ini. Mutu suara, yang dipengaruhi oleh kasarnya permukaan-permukaan yang memantulkan suara, tingginya pagar-pagar dan faktor-faktor lainnya, akan berbeda sebagai perbandingan dari panjang gelombang terhadap dimensi obyek, karena itu masalahnya menjadi lebih rumit.
Gb. 1-2 Gelombang sinusoidal
Gb. 1-3 Garis bentuk Kenyaringan

4 Garis bentuk Kenyaringan
Dikatakan bahwa batas perbedaan suara yang bisa terdengar oleh rata-rata orang adalah 20 - 20,000 Hz, tetapi bisa terdengarnya tersebut tergantung pada frekwensi. Tes-tes (hearing) psikiatris menghasilkan Garis bentuk Kenyaringan seperti yang tampak pada Gb. 1-3. Kurva menggunakan 1000 Hz dan 40 dB sebagai referensi untuk suara murni dan mem-plot suara referensi ini dengan tingkat-tingkat yang bisa terdengar dari kenyaringan yang sama pada berbagai frekwensi.
Seperti diperlihatkan pada gambar, kenyaringan suara yang diterima oleh telinga manusia bervariasi karena dua sifat-sifat fisik yaitu tingkat tekanan suara dan frekwensi. Bahkan dalam lingkup yang bisa terdengar, frekwensi-frekwensi rendah dan tinggi sulit untuk ditangkap. Dibutuhkan kepekaan tinggi pada lingkup 1 - 5 kHz.
Apabila tingkat kenyaringan dari suatu suara dikurangi, pada suatu titik tertentu, suara tidak lagi terdengar. Tingkat ini juga berbeda sesuai dengan frekwensi. Tingkat ini diindikasikan sebagai tingkat minimum yang bisa terdengar (garis titik-titik) pada Gb. 1-3. Tingkat minimum yang bisa terdengar pada 20 dB atau lebih dipandang sebagai kesulitan pendengaran.
5 Pengaruh/Akibat-akibat dari Kebisingan
Menurut definisi kebisingan 1.1, apabila suatu suara mengganggu orang yang sedang membaca atau mendengarkan musik, maka suara itu adalah kebisingan bagi orang itu meskipun orang-orang lain mungkin tidak terganggu oleh suara tersebut. Meskipun pengaruh suara banyak kaitannya dengan faktor-faktor psikologis dan emosional, ada kasus-kasus di mana akibat-akibat serius seperti kehilangan pendengaran terjadi karena tingginya tingkat kenyaringan suara pada tingkat tekanan suara berbobot A atau karena lamanya telinga terpasang terhadap kebisingan tsb.

Tabel 1-1 Jenis-jenis dari Akibat-akibat kebisingan
Tipe
Uraian
Akibat-akibat badaniah
Kehilangan pendengaran
Perubahan ambang batas sementara akibat kebisingan, Perubahan ambang batas permanen akibat kebisingan.
Akibat-akibat fisiologis
Rasa tidak nyaman atau stres meningkat, tekanan darah meningkat, sakit kepala, bunyi dering
Akibat-akibat psikologis
Gangguan emosiona
Kejengkelan, kebingungan
Gangguan gaya hidup
Gangguan tidur atau istirahat, hilang konsentrasi waktu bekerja, membaca dsb.
Gangguan pendengaran
Merintangi kemampuan mendengarkann TV, radio, percakapan, telpon dsb.

Ketinggian merupakan salah satu keadaan yang akan dialami oleh setiap orang yang berada di dalam pesawat, baik awak pesawat dan penumpang pesawat. Keadaan tersebut tanpa disadari memengaruhi fungsi seluruh alat tubuh pada orang-orang yang berada di dalam pesawat. Hal itu dapat menimbulkan beberapa kondisi maupun penyakit yang berhubungan dengan ketinggian.

Ketinggian ditentukan berdasarkan skala Tinggi (2438 – 3658 meter), Sangat Tinggi (3658 – 5487 meter) dan Ekstrim Tinggi (lebih dari 5500 meter). Telah diketahui bahwa kadar oksigen pada ketinggian di permukaan laut sebanyak 21% dengan rerata tekanan barometrik 760mmHg. Ketika ketinggian bertambah, kadar oksigen tetap sama namun jumlah partikel oksigen mengalami pengurangan yang signifikan akibat turunnya tekanan barometrik. Dampak dari kejadian tersebut adalah tubuh akan melakukan adaptasi dengan kondisi tersebut, misalkan meningkatkan frekuensi pernafasan dan denyut jantung, meningkatkan jumlah sel darah merah dalam tubuh, dll. Namun jika tubuh tidak dapat melakukan adaptasi tersebut, maka pembuluh darah akan mengalami kebocoran dan menyebabkan penumpukan cairan pada otak, paru dan jantung.

Beberapa penyakit yang dapat diperberat oleh faktor ketinggian adalah gagal jantung kongesti, emboli paru, stroke, dll. Bagi seorang pasien yang akan melakukan evakuasi medis udara dimana memiliki penyakit seperti yang telah disebutkan akan sangat diwaspadai oleh tim evakuasi medis sehingga memerlukan adanya prosedur penilaian kondisi klinis pasien yang dilakukan oleh tim evakuasi medis sebelum dinyatakan layak evakuasi medis udara dengan pesawat dan mendapatkan pengawasan yang ketat dari tim evakuasi medis selama proses evakuasi berlangsung.
Kepadatan udara tidak sepadat tanah dan air. Namun udarapun mempunyai
berat dan tekanan. Besar atau kecilnya tekanan udara, dapat diukur dengan
menggunakan barometer. Orang pertama yang mengukur tekanan udara
adalah Torri Celli (1643). Alat yang digunakannya adalah barometer raksa.
Tekanan udara menunjukkan tenaga yang bekerja untuk menggerakkan masa
udara dalam setiap satuan luas tertentu. Tekanan udara semakin rendah
apabila semakin tinggi dari permukaan laut.




2.3 Efek tekanan barometric pada tubuh.
• Tekanan barometric yang di pengaruhi oleh ketinggian
Ketinggian merupakan salah satu keadaan yang akan dialami oleh setiap orang yang berada di dalam pesawat, baik awak pesawat dan penumpang pesawat. Keadaan tersebut tanpa disadari memengaruhi fungsi seluruh alat tubuh pada orang-orang yang berada di dalam pesawat. Hal itu dapat menimbulkan beberapa kondisi maupun penyakit yang berhubungan dengan ketinggian.
Ketinggian ditentukan berdasarkan skala Tinggi (2438 – 3658 meter), Sangat Tinggi (3658 – 5487 meter) dan Ekstrim Tinggi (lebih dari 5500 meter). Telah diketahui bahwa kadar oksigen pada ketinggian di permukaan laut sebanyak 21% dengan rerata tekanan barometrik 760mmHg. Ketika ketinggian bertambah, kadar oksigen tetap sama namun jumlah partikel oksigen mengalami pengurangan yang signifikan akibat turunnya tekanan barometrik. Dampak dari kejadian tersebut adalah tubuh akan melakukan adaptasi dengan kondisi tersebut, misalkan meningkatkan frekuensi pernafasan dan denyut jantung, meningkatkan jumlah sel darah merah dalam tubuh, dll. Namun jika tubuh tidak dapat melakukan adaptasi tersebut, maka pembuluh darah akan mengalami kebocoran dan menyebabkan penumpukan cairan pada otak, paru dan jantung.
Beberapa penyakit yang dapat diperberat oleh faktor ketinggian adalah gagal jantung kongesti, emboli paru, stroke, dll. Bagi seorang pasien yang akan melakukan evakuasi medis udara dimana memiliki penyakit seperti yang telah disebutkan akan sangat diwaspadai oleh tim evakuasi medis sehingga memerlukan adanya prosedur penilaian kondisi klinis pasien yang dilakukan oleh tim evakuasi medis sebelum dinyatakan layak evakuasi medis udara dengan pesawat dan mendapatkan pengawasan yang ketat dari tim evakuasi medis selama proses evakuasi berlangsung.
• Efek tekanan barometric pada saat pemberian cairan infuse selama penerbangan .
Pemberian terapi cairan Infus yang cermat merupakan salah satu hal yang sangat perlu mendapat perhatian dalam penerbangan. Perubahan tekanan udara mempengaruhi aliran cairan intravena. Tekanan udara berubah terus karena sesuai ketinggian pesawat.Pengaruh dari Tekanan Barometrik.
keadaan-keadaan yang mungkin timbul dan dapat merupakan bahaya potensial bagi pasien adalah :
• Terjadinya suatu aliran cairan yang besar dan mendadak yang tidak teratur kearah pasien.
• Berkurangnya cairan yang mendadak, sehingga menyebabkan ketidak cermatan dalam pemberian cairan pada pasien.
• Timbulnya gelembung-gelembung udara dalam tube penyaluran.
• Container (botol). Botol plastic cairan infuse adalah yang paling cocok untuk evakuasi medik udara, karena tidak bisa pecah dan tidak mengandung udara lebih ysng dapat bereaksi terhadap perubahan barometric.

Akibat-akibat Yang mungkin terjadi :
1. Botolnya pecah.
2. Set penetesan mencuat keluar.
3. Darah kembali kedalam saluran.
4. Udara dan cairan mengalir kebadan pasien.

Tindakan awal petugas medis Udara setelah terjadi akibat yang mungkin terjadi diatas:
1. Jepit saluran infus, periksa keadaan pasien, botol dan saluran infus.
2. Bersihkan saluran infuse dari udara dan teruskan pemberian infuse apabila tidak tersumbat atau terinfiltrasi• Perubahan temperature dan tekanan merupakan pencetus sakit kepala.
Ternyata perubahan cuaca yang terjadi di sekitar kita dapat juga menjadi pencetus timbulnya rasa sakit kepala sebelah atau migrain. Para peneliti dalam jurnal neurologi menyebutkan bahwa temperatur tinggi dengan tekanan barometrik rendah dapat menjadi pencetus timbulnya migraine .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar