Kamis, 31 Maret 2016

Cerpen 2

Asa kembali lagi dengan keindahan hidup yang bebas yang dialaminya selama jauh dari orang tuanya yang super protektif. Asa mulai merasa bosan dengan kehidupannya. Sampai dia bertemu dengan kenalan baru atau lebih tepatnya baru akrab setelah kejadian itu. Malam itu ketika Asa kembali dari rutinitas dunia malamnya, dia mengendarai mobil ugal-ugalan sampai akhirnya menyerempet seorang gadis dengan sepedanya. Gadis itu tak terluka parah, tapi Asa menabrak pohon dan tidak sadarkan diri. Tubuhku basah, entah apa itu sampai aku merasakan semua gelap.

Aku merasa silau akan cahaya itu, entah cahaya dari mana. Saat kubuka mata,semua masih tidak jelas. Kembali ku kucek-kucek mataku, sampai akhirnya aku melihat ada bayangan di hadapanku. Ibu, sosok itu ibuku yang sangat ku sayangi. Tapi kenapa ibu menangis? Saat ku lihat di hadapannya ada sesuatu. Tapi itu adalah aku, kenapa bisa tubuhku ada disitu. Disekitar ibu ada banyak orang, ada kakakku dan saudara ibu lainnya. Tapi sosok ayah tidak ada disitu, dimana dia? Aku bertanya pada kakak dan ibu,kenapa mereka menangisi aku. Sedangkan aku ada disamping mereka, semua tidak menggubrisku yang mengoceh dari tadi. Aku berkeliling di beberapa kamar, ada banyak orang tapi mereka tidak menghiraukanku. Yah sudah, aku sibuk mencari orang lain sampai didepan kamar lamaku yang masih sama seperti saat ku tinggalkan dulu. Ada seseorang disana, saat aku mendekat ada ayah disana. Ayah sudah semakin tua,rambutnya semakin memutih, wajahnya tak setegas dulu, diwajahnya sudah dipenuhi keriput dan diwajahnya ada air mata yang tak henti menetes. Ditanganya ada fotoku saat SMA, tetesan air mata ayah membasahi foto itu. Ayah berubah! Dia menangisi fotoku. Kenapa? Aku kembali melihat tubuhku, disana ibu mulai menangis lebih keras dan memeluk tubuh itu dan berteriak "kenapa harus begini caramu pergi anakku?bangunlah dan kembali ke sisi ibu nak, maafkan ibu tak bisa menjagamu" kakak disamping ibu terus menenangkan. Akhirnya aku paham, akulah yang mereka tangisi karena kepergianku. Ingatanku kembali saat mengingat kejadian malam itu. Oh tidak, malam itu akhir dari petualanganku yang bebas. Semua berakhir saat begitu banyak kesalahan yang ku buat, dosa dan kehidupan yang bebas itu belum ku perbaiki dan sekarang aku harus meninggal? Atau lebih tepat dikatakan MATI karena hidupku lebih tak berharga daripada binatang. Penyesalan itu mulai mrngganggu pikiranku, meninggal dengan cara yang tragis. Itulah nasibku sekarang, orang tuaku menangisiku. Kebencian pada sikap mereka berubah menjadi iba, semua menjadi penyesalan yang amat dalam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar